logo
logo
Selamat Datang di Website Resmi Kodam Iskandar Muda

RAMADHAN DAN NASIONALISME

Bagi bangsa Indonesia, bulan Ramadhan mempunyai arti yang special dan tidak terhapuskan dari perjalanan sejarah bangsa ini. Setidaknya ada dua hal penting, bila dikaitkan antara Ramadhan dengan peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia, pertama; Indonesia sebagai bangsa terbesar pemeluk Islamnya di dunia dan kedua; Kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Ramadhan.

Sebagai bangsa terbesar pemeluk Islamnya di dunia, Indonesia sering tampil sebagai motor atau contoh pengembangan seni budaya, ilmu pengetahuan, hukum dan pemikiran keislaman. Faktanya, cukup mengambil contoh bagaimana umat Islam Indonesia menyambut datangnya bulan Ramadhan. Ritual berbau budaya lokal bermunculan di hampir setiap pelosok negeri ini. Bukan Aceh namanya kalau belum meriah dengan tradisi “meugang” yang ditandai dengan penyembelihan sapi di titik-titik komunitas masyarakat. Sumatera Utara tidak mau kalah dengan acara “marpangir” mandi-mandi dengan wewangian sebagai lambang pembersihan diri. Sumatera Barat ada tradisi “malamang”. Apalagi di pulau Jawa, hampir di setiap daerah mempunyai tradisi dan budaya masing-masing, baik yang dipusatkan di masjid, arak-arakan keliling kampung sambil bersenandung shalawat dan pujian kepada Allah Sang Pencipta. Ada “bagarakan” di Kalimantan dan banyak lagi yang lainnya.

Semua budaya ini merupakan wujud kegembiraan masyarakat Muslim Indonesia untuk menyambut yang namanya bulan suci, bulan puasa di bulan Ramadhan. Ritual budaya yang ditampilkan ini bukanlah “ngarang-ngarang” tanpa alasan. Semua bermuara pada bagaimana Rasulullah Muhammad SAW menunjukkan kegembiraannya setiap akan memasuki bulan Ramadhan. “Marhaban ya Ramadhan” adalah salah satu ungkapan Nabi sebagai ungkapan kehormatan bagi datangnya tamu agung yaitu bulan Ramadhan. Nabi juga mengungkapkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan umatnya, artinya bulan suci Ramadhan ini diberikan fasilitas oleh Allah SWT berupa ganjaran berlipat ganda bagi siapa yang berpuasa atas dorongan iman dan beramal shaleh dengan penuh perhitungan (ihtisab). Allah hanya merangsang iman hambanya dengan ucapan-Nya “wa ana ajza bihi” (Allah yang langsung menghitung dan memberikan pahala puasa di bulan Ramadhan) serta Allah mengabulkan do’a orang yang berpuasa.

Baca Juga:  AJENDAM IM SELENGGARAKAN SELEKSI CATAR AKMIL UNGGULAN TA 2017 GUNA MENJAWAB KOMPLEKSITAS TUGAS DI ERA MODERN

Bila hitung-hitungan kuantitatif dilakukan dalam menakar doa orang yang berpuasa di Indonesia tahun ini, sungguh bermakna amat dahsyat. Oleh karena itu Ramadhan tahun ini yang bertepatan dengan peringatan kemerdekaan RI ke 66, perlu rasanya seluruh umat Islam Indonesia menyatu dalam satu ikatan doa yakni mendoakan keselamatan, keamanan dan kesejahteraan bagi segenap rakyat Indonesia, agar bangsa ini mampu membangun negeri ini menjadi “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur” negara yang adil dan makmur dalam ampunan Allah.

Kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari bulan Ramadhan, sebab Allah Tuhan Yang Maha Agung telah menetapkan bahwa Proklamasi kemerdekaan RI jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan. Boleh jadi dipra-anggapkan sebagai kebetulan karena bertepatan dengan perhitungan Ramadhan tahun Qamariyah. Namun penilaian kebetulan ini akan segera terbantahkan dengan melihat fakta-fakta sejarah, bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari Sekutu, Jepang atau Belanda, melainkan atas usaha dan upaya dari segenap elemen masyarakat nusantara yang menginginkan agar Indonesia terbebas dari jeratan penjajahan dan menjadi bangsa yang mandiri. Hasilnya, Indonesia merdeka dan diakui kemerdekaannya oleh dunia. Maka “Sabang – Merauke” menjadi teritorial yang menyatu di bawah genggaman ke-bhinnekatunggalika-an dalam wadah NKRI.

Tidak hanya sampai di situ. Semangat Ramadhan masih terus mewarnai pernak-pernik kemerdekaan RI. Lihat saja misalnya, pengakuan yang tulus dari para pendiri negeri ini, mereka sepakat bahwa kemerdekaan yang diperoleh bukanlah semata-mata hasil keringat para pejuang yang gigih dan bahkan gugur dalam merebut kemerdekaan, melainkan sebagai berkat dan rahmat Allah Yang Maha Kuasa (lihat-alinea 3 Pembukaan UUD 1945) kepada segenap bangsa dan tanah tumpah darah Indonesia. Kesepakatan ini tentu didorong oleh kekuatan iman dan keyakinan mereka. Terlihat dengan jelas bahwa dorongan iman sangat dominan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI sebagaimana juga puasa di bulan Ramadhan, hanya dapat dilaksanakan dengan sempurna bila dilakukan atas dorongan iman yang kuat. Slamet Muljana (Kesadaran Nasional,2008, hal. 41) mengatakan bahwa ini merupakan bukti bahwa kemerdekaan yang dicapai adalah kemerdekaan yang diberkati Allah. Oleh sebab itu maka Nasionalisme bangsa Indonesia adalah nasionalisme religius.

Baca Juga:  HUT ke 60, Kodam Gelar Lomba Lari 10 K Ayo Buruan Daftar..!!!!

Bagaimana mengisi dan mempertahankan nasionalisme religius ini ? Terpulang kepada umat Islam Indonesia untuk mampu menggali hikmah yang begitu banyak dalam ibadah-ibadah ramadhan, mulai dari semangat kebersamaan, kepedulian sosial, silaturrahmi, kebersamaan, keamanan, ketangguhan dan keuletan, semua tersedia di balik ibadah-ibadah Ramadhan. Menakar kualitas iman kaum Muslimin di bulan Ramadhan ini akan terlihat, salah satunya, tumbuhnya kesadaran berbangsa dan bernegara dalam mengisi peringatan hari kemerdekaan ke 66 Republik Indonesia yang jatuh pada bulan Ramadhan tahun 1432 H/2011 M ini. Apabila semangat ini kurang bergelora dan minim gaungnya, maka perlu kilas balik pada sejarah Nabi Muhammad SAW, di mana perang Nabi sebahagian terjadi di bulan Ramadhan. Seperti perang Badar yang dahsyat dan menentukan masa depan Islam itu terjadi pada bulan Ramadhan. Perang yang begitu dahsyat disebut Nabi sebagai jihad atau perang kecil, karena melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan adalah jihad yang lebih besar. Mari kita lakoni jihad besar  ini dengan kekuatan iman dan taqwa. Semoga Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan yang penuh makna dalam memperingati kemerdekaan Indonesia. Dirgahayu Kemerdekaan RI ke 66. Oleh : Letkol Caj Drs. H. Ahmad Husein, S., M.A.(Sekretaris Babinminvetcaddam IM)