Breaking News

Sejarah

” Tentara Nasional Indonesia Lahir karena Proklamasi kemerdeka- an 17 Agustus 1945, hidup dengan Proklamasi itu dan bersumpah mati-matian hendak mempertahankan kesuciannya Proklamasi tersebut, sebab Proklamasi itulah yang menjadi dasar dan pokok pegangan serta pedoman perjuangan bangsa Indonesia seluruhnya,
buat hari besok dan hari selama-lamanya ”
( Jenderal Soedirman, Yogyakarta,16 Agustus 1949 ).

Proklamasi 17 Agustus yang dikumandangkan oleh Soekarno – Hatta merupakan tonggak awal terbentuknya NKRI dan sekaligus tanda putusnya rantai inperialisme penjajahan bangsa Eropa dan jepang di bumi Pertiwi ini. Negara yang baru lahir ini masih mencari bentuk dan jati diri pemerintahan yang sesuai dengan kepribadian bangsa sehingga wajar apabila terjadi pergolakan revolusi dihampir seluruh wilayah nusantara.

Pada bulan September 1945 dengan kembali mendaratnya Tentara Sekutu dengan membonceng tentara NICA/Belanda yang bertujuan kembali menjajah Indonesia membangkitkan semangat rakyat untuk bersatu membentuk front-front perlawanan menentang penjajahan kembali sehingga terbentuklah laskar-laskar perjuangan diseluruh wilayah Indonesia, termasuk di wilayah Aceh ini sebagai cikal bakal terbentuknya satuan Batalyon TNI yang salah satunya terdiri di Langsa Aceh Timur.

Terbentuknya satuan legendaris ini merupakan jawaban atas tuntutan keadaan pada 1946 sebagai wadah pengabdian bagi prajurit tanah rencong yang tangguh dan gigih berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Negara Indonesia. Di daerah AcehTimur sering mendapat serangan dari tentara Belanda sedangkan daerah pantai tersebut merupakan tempat yang strategis dari Belanda untuk mendaratkan pasukannya dari arah pantai Kuala Penaga, Serang Jaya, Seruwai, Sungai Iyu dan Pulau Kampe. Untuk menjaga kemungkinan pendaratan tentara Belanda, maka barisan rakyat Aceh mengorganisir diri menjadi pasukan dan menggabungkan diri dalam satuan barisan yang diberi nama BATALIJON IX DIVISI GADJAH I ATJEH dengan Komandan Batalyon Kapten Inf Alamsyah.

Batalyon Infanteri ini lahir secara resmi pada tanggal 1 September 1946, berdasarkan keputusan Panglima Divisi Gajah I Aceh dengan struktur organisasi masih darurat terdiri dari lima Kompi dengan personil merupakan bekas KNIL, tentara PETA dan Laskar rakyat dengan persenjataan awal adalah :

1. 1 pucuk pistol Viekers.
2. 1 pucuk Karabya.
3. 3 buah tombak besi.
4. senjata rakyat berupa parang, rencong dll.

Lokasi kedudukan Yonif IX Divisi Gajah I Aceh pada saat terbentuk sebagai berikut :

1. Mayon : Kuala Simpang.
2. Kompi 35 : Kuala Simpang.
3. Kompi 36 : Rantau.
4. Kompi 37 : Seruway.
5. Kompi 38 : Perapatan Rantau.
6. Kompi Markas : Rantau.

Dalam perjalanan mengabdi kepada bangsa dan negara Batalyon Infanteri 113/JS memiliki sejarah perkembangan yang cukup panjang dimulai sejak berdirinya dengan nama Batalyon IX Divisi Gajah I Aceh sampai dengan sekarang Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti perkembangan tersebut meliputi perubahan nama satuan, organisasi, persenjataan, komposisi dan lokasi posisi satuan dan lain sebagainya sesuai dengan tuntutan tugas yang dihadapi pada zamannya.

1. Pada tanggal 1 September 1946 resmi terbentuknya BATALYON IX DIVISI GAJAH I / ACEH, di Langsa dan Markas Batalyon berada di Kuala Simpang Aceh Timur.

2. Pada tahun 1949 berubah nama menjadi BATALYON II / A BRIGADE C TERITORIUM I.
3. Pada tahun 1949 ini juga berubah menjadi BATALYON III / A BRIGADE CC TERITORIUM I.

4. Pada tahun 1950 Markas Batalyon kemudian pindah ke Meulaboh dan pada saat dikunjungi Presiden Republik Indonesia Pertama, Ir. Soekarno mengatakan Tentara Aceh adalah pemberani, kuat dan tegar seperti Badak Hitam dari Meulaboh. Tahun 1950 berubah nama menjadi BATALYON 119/BADAK HITAM TERITORIUM DAN TERITORIUM I. Pada tahun 1950 sampai dengan Maret 1951 BATALYON 119/Badak Hitam diberangkatkan kedaerah Ambon.

5. Pada tahun 1951 sampai dengan April 1952 berada di daerah Maluku Selatan dengan Markas Batalyon di Pulau Banda Naira, pada tahun 1951 atas keputusan Markas Besar Angkatan Darat berubah menjadi BATALYON 712/BADAK HITAM TERITORIUM DAN TERITORIUM VII/WIRABUANA.

6 Pada tahun 1952 sampai dengan 1957 ditugaskan ke Sulawesi tengah dengan Markas Batalyon berada di Poso. Pada tahun 1959 berubah menjadi BATALYON 706 DIVISI I TERITORIUM VII/WIRABUANA.

Tahun 1957 setelah melaksanakan operasi kurang lebih 7 tahun di daerah Indonesia Timur kembali ke daerah Aceh dengan Markas Batalyon berada di Meulaboh ( Aceh Barat ).

7. Pada tahun 1961 BATALYON 706 berubah menjadi BATALYON I / A KODAM – 1 ISKANDAR MUDA. Dengan Markas Batalyon masih berkedudukan di Meulaboh.

8. Pada 1961 juga berubah menjadi BATALYON B-I-III/KODAM-I/ISKANDAR MUDA, Pada tahun 1962 Markas Batalyon dipindahkan ke Kota Bakti ( Pidie ).

9. Pada tahun 1963 BATALYON B-I-III/KODAM –I ISKANDAR MUDA berubah menjadi BATALYON B-I-III/KODAM ACEH.

10. Pada tahun 1964 BATALYON B-I-III/KODAM ACEH berubah menjadi BATALYON B I – 103/KODAM ACEH.
11. Pada tahun 1966 BATALYON B I – 103/KODAM ACEH berubah menjadi Batalyon Infanteri 113/Badak Hitam Kodam-I Iskandar Muda.

Pada tahun 1982 atas dasar surat perintah Pangdam I/IM nomor sprit / 04 / -1 / 1982 tentang pangkalan Yonif 113/BH dipindahkan dari Kota Bakti – Pidie ke Bireuen – Aceh Utara dengan dislokasi sebagai berikut :

– Mayon, Kima dan Kiban di Bireuen – Aceh Utara
– Kipan A di Lampahan – Aceh Tengah.
– Kipan B di Cunda – Aceh Utara.
– Kipan C di Titeu Keumala – Pidie.

12. Dengan adanya liukidasi Kodam I/IM digabung dengan Kodam II/BB pada tahun 1985 menjadi Kodam I/BB. Maka pada tanggal 3 September 1985 berubah menjadi BATALYON INFANTERI 113/BADAK HITAM KODAM I/BB dengan sebutan Yonif Ter, terdiri dari empat Kompi Senapan dan satu Kompi Markas.

13. Pada tanggal 20 Juli 1987 dirubah menjadi BATALYON INFANTERI 113/JAYA SAKTI KOREM 011/LILAWANGSA KODAM I/BB.

Dasar surat telegram Pangdam I/BB nomor : STR / 388 / 1989 Yonif 113/JS sebagai Yonif dimantapkan prioritas I Top Roi 83 M – I.

Dasar surat telegram Pangdam I/BB nomor : STR / 799 / 1995 tentang penyusunan personel maupun materil Yonif dari Yonif Roi – 83 M – I menjadi Yonif Roi – 83.

Dasar Surat Keputusan Kasad Nomor Skep / 159 / V / 1996 tentang penyusunan personel maupun materil menjadi TOP ROI – 95.

14. Dengan adanya pembentukan/pengaktifan Kodam Iskandar Muda pada tahun 2001. maka pada tahun 2002 Batalyon Infanteri 113/JS Rem 011/LW Dam I/BB berubah menjadi Batalyon Infanteri 113/JS Rem 011/LW Dam Iskandar Muda.
Dasar Surat Telegram Pangdam IM Nomor : ST / 280 / 2004 tentang pembentukan Yonif di perkuat Dam IM dari ROI – 95 menjadi TOP ROI Khusus Dam IM maka Yonif 113/JS terdiri dari Mayon, Kompi Markas, 5 Kompi Senapan dan Kompi Bantuan dengan dislokasi :

– Mayon, Kima dan Kiban di Juli – Bireuen.
– Kipan A di Lampahan Aceh Tengah.
– Kipan B di Bandar Baru – Pidie Jaya.
– Kipan C di Titeu Keumala – Pidie.
– Kipan D di Pandrah – Bireuen.
– Kipan E di Geumpang – Pidie.

Pada tahun 2005 seiring dengan diresmikan tiga Batalyon baru ( Yonif 114/SM, Yonif 115/ML dan Yonif 116/GS ) di jajaran Kodam IM maka sebagian personel dan Kompi yang akan dipecah alih komando kesatuan yang baru, untuk satuan yang lama kemudian membentuk kompi yang baru sehingga dislokasi pasukan jajaran Yonif 113/JS berubah sebagai berikut :

– Mayon, Kima dan Kiban di Juli – Bireuen.
– Kipan A di Lampanah – Aceh Besar.
– Kipan B di Cunda Aceh Utara.
– Kipan C di Titeu Keumala – Pidie.
– Kipan D di Pandrah – Bireuen.
– Kipan E di Geumpang – Pidie.