logo
logo
"Selamat datang di situs Website Komando Daerah Militer Iskandar Muda"

TMMD Bedah Keterisoliran Warga Aceh Tamiang

IMG-20160824-WA0076

BERSAMA RAKYAT WUJUDKAN NKRI BERDAULAT DAN SEJAHTERA“. Itulah tema sentral yang diangkat oleh Institusi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-96 Tahun 2016.

Adapun makna dari pesan tersebut adalah bahwa TNI yang lahir dari rakyat ingin bersama sama rakyat mewujudkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdaulat serta mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Kehadiran TNI harus benar benar dirasakan dan membawa manfaat yang besar bagi rakyatnya dan juga republik ini.

Tahun 2016 ini, TMMD dilaksanakan serentak di 61 wilayah kabupaten/kota, 62 kecamatan dan 86 desa diseluruh Indonesia. Salah satu kabupaten yang menjadi tempat pelaksanaan TMMD ini adalah Kabupaten Aceh Tamiang Provinsi Aceh yang dipusatkan di Desa Paya Meta Karang Baru, Selasa (3/5/2016).

Sungguh berbahagialah warga masyarakat diwilayah tersebut dimana agenda TNI ini menjadi anugerah tersendiri dalam upaya mengatasi keterisoliran daerah serta banyak fasilitas umum yang selama ini menjadi dambaan warga setempat bisa dibangun di desa Paya Meta ini.

Aceh yang sudah begitu lama berkecamuk konflik puluhan tahun silam dan kini merasakan masa masa penuh damai seiring lahirnya Nota kesepahaman (MoU) Helsinki antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 15 Agustus 2005 yang ditandatangani oleh para pihak di Finlandia, sudah barang tentu butuh percepatan pembangunan disegala bidang guna mengejar ketertinggalan dari daerah daerah lain yang tak didera konflik berkepanjangan.

Pembangunan infrastruktur, sarana dan prasarana umum menjadi dambaan bagi masyarakat Aceh, bukan saja di Aceh Tamiang tapi juga dibelahan kabupaten/kota Aceh lainnya. Ya, kehadiran program TMMD di wilayah Aceh Tamiang ini bisa menjadi pintu pembuka bagi lahirnya semangat masyarakat daerah ini untuk bersatu padu, bergotong royong, memupuk kebersamaan dalam membangun daerahnya.

Komandan Kodim 0104 Aceh Timur, Letkol Inf Amril Haris Isya Siregar dalam salah satu kesempatan tatap muka dengan wartawan di Aula Yudha Makodim setempat, Senin (25/4/2016) menjelaskan bahwa TMMD mengakselerasi program pembangunan nasional manunggal dalam kebersamaan antara TNI dan rakyat.

Untuk wilayah teritorial Kodim 0104/Aceh Timur, TMMD fokus membuka jalan baru sepanjang 3,5 kilometer di desa pedalaman Paya Meta dan Desa Alue Lhok Kecamatan Karang Baru Aceh Tamiang. Pembangunan jalan 3,5 kilometer ini menjadi prioritas karena akan membuka akses warga dari dua desa tersebut dan lainnya untuk mempersingkat jarak tempuh menuju pusat pemerintahan Aceh Tamiang dari 24 kilometer menjadi hanya 8 kilometer saja. Saat ini warga diwilayah itu harus menempuh jarak cukup jauh dan memutar bahkan kondisi jalan juga tampak sangat rusak.

Dandim, Letkol Inf Amril Haris Isya Siregar juga menjelaskan selain membuka jalan, pihaknya juga membangun satu unit jembatan didaerah tersebut, dua unit plat beton, serta tiga unit gorong-gorong.  Juga turut dibangun 68 unit wc atau jamban bagi warga setempat. Sementara untuk sasaran non fisik yang dilaksanakan diantaranya sosialisasi Bela Negara, wawasan kebangsaan, pembinaan wanra, sosialisasi kamtibnas, penyuluhan hukum, penyuluhan kesehatan masyarakat tentang HIV/AIDS, sosialisasi pendidikan, KB Kes, Penyuluhan Pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan perkebunan.

Baca Juga:  Anak Tukang Pangkas Rambut Diterima Taruni Akademi Militer

 

Di Buka

Selasa (3/5/2016), suasana Lapangan Paya Meta Karang Baru Aceh Tamiang tampak ramai. Sejumlah pejabat teras sipil dan TNI/Polri tampak hadir di tenda utama. Pagi itu, kegiatan TMMD resmi dibuka oleh Bupati Aceh Tamiang. Kegiatan ini berlangsung hingga 30 hari kedepan.

Tampak Bupati Aceh Tamiang H. Hamdan Sati, Danrem 011 Lilawangsa, Kol Inf Dedy Agus Purwanto, Kainfolahta Dam IM Kol Inf Martohap Simorangkir, Dandim 0104 AT, Letkol Inf Amril Haris Isya Siregar, Kapolres Aceh Tamiang AKBP Yoga Prasetyo dan undangan lainnya. Dalam salah satu sambutan yang dibacakan bupati, disebutkan implementasi budaya gotong royong sudah mengakar di Negara kita. “Melalui semangat kebersamaan, persaudaraan, persatuan dan kesatuan, mari bersama sama membangun daerah,” ajak Bupati.

 

Antusias

Pasca acara pembukaan, warga desa terlihat begitu antusias. Berbagai proyek pembangunan yang sedang mereka laksanakan bersama Babinsa TNI Kodim 0104 AT sepekan sebelumnya terus dipacu seperti pengecoran plat beton jembatan baru yang merupakan jalan pintas dari Alue Lhok  Kabupaten Aceh Tamiang menuju bibir jalan lintas Medan-Banda Aceh.

Adapun lokasi di Alue Lhok ini sebelumnya merupakan hutan rawa dan sawah, sehingga apabila ada ada masyarakat yang berladang disini harus melalui jalan setapak dengan berjalan kaki. Pada musim panen, petani yang pada umumnya berkebun karet, pinang dan bertanam padi disekitar desa ini harus mengeluarkan uang Rp 5 ribu/goni untuk ongkos angkut sampai perbatasan desa Paya Meta sekitar 500 meter dari lokasi. Dengan dibangunnya jembatan plat beton ini tentunya sangat membantu petani untuk dapat menikmati hasil panen dengan maksimal,” sebagaimana jelas Datok Gampoeng (Kepala Desa) Alue Lhok Muhammad Yakub dan Danramil 02/KRB Kapten Inf P. Harahap.

Sebelum dibangunnya plat beton ini, masyarakat harus melambung melalui Desa Alur Baung atau Desa Bukit Panjang yang memakan waktu sekitar satu jam untuk mencapai bibir jalan, dengan selesainya pembangunan Plat Beton ini, masyarakat dapat dengan mudah melaksanakan aktifitas sehari-hari karena jalan baru dilokasi ini sudah dibuka sehingga hanya dibutuhkan waktu sekitar 10 menit sampai bibir jalan Medan – Banda Aceh.

Senada dengan keduanya, Datok Gampoeng Paya Meta, Syafruddin mengatakan selama ini masyarakat desa sangat kesulitan melintasi jalan tersebut karena jembatannya yang terbuat dari sebatang kayu saja sehingga pejalan kaki maupun pesepeda motor harus berhati-hati pada saat melintas. Sementara kendaraan roda empat atau lebih tidak bisa lewat jalan ini, sebutnya. Alhamdulillah, dengan dibangunnya jembatan dan plat beton ini lewat program TMMD, transportasi menjadi lebih lancar apalagi jembatan ini merupakan jalur vital yang menghubungkan antara kedua Desa, “urai Syafruddin.

Baca Juga:  Metode Kampanye Sepanjang Tahun Guna Peningkatan Kualitas SDM Calon Prajurit

 

Historis TMMD

TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) yang pada awalnya dikenal dengan ABRI Masuk Desa (AMD) merupakan program kerjasama lintas sektoral antara TNI, Kementerian/Lembaga Pemerintahan Non Kementerian (LPNK)  dan Pemerintah Daerah, serta Komponen Bangsa lainnya, yang dilaksanakan secara terpadu dan berkesinambungan dalam upaya membantu meningkatkan akselerasi pembangunan di daerah-daerah tertinggal, terisolasi, pinggiran dan terbelakang.

TMMD sebagai salah satu wujud Operasi Bhakti TNI yang sinergis, terintegrasi dan terorganisasi, memiliki maksud, tujuan dan manfaatnya yang jelas, baik bagi kepentingan TNI, Masyarakat maupun Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

Dulu, saat masih dinamakan AMD, awal penyelenggaraan didasarkan karena adanya Amanat Presiden Soeharto pada Hari Ulang Tahun ABRI XXXIII tanggal 5 Oktober 1978, yang secara garis besar mengajak segenap warga ABRI untuk meresapkan dan menghayati kembali Kemanunggalan ABRI dengan Rakyat.

Kemanunggalan tersebut pernah terwujud dalam sejarah pembentukan bangsa Indonesia, untuk itu Presiden Soeharto mengharapkan Kemanunggalan ABRI dengan Rakyat harus semakin diperkuat demi suksesnya tugas sejarah yang diletakkan di pundak ABRI.

Tindak lanjut dari ajakan Presiden kedua RI tersebut untuk konkreatisasi kemanunggalan ABRI dengan Rakyat, Menteri Hankam/Pangab pada saat itu menerapkan Strategi ABRI Masuk Desa sebagai bagian integral dari strategi dasar Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia dan Pembangunan Manusia Indonesia seutuhnya.

Program Andalan Strategi ABRI Masuk Desa yang pada awalnya merupakan konkreatisasi kemanunggalan ABRI dengan Rakyat, dalam perkembangannya berhasil meningkatkan kemanunggalan ABRI dengan Rakyat, sehingga rakyat secara sukarela siap mendukung tugas ABRI manakala Negara membutuhkan.

Strategi ABRI Masuk Desa ternyata menjadi program andalan bagi Pemerintahan Presiden Soeharto pada saat itu. Program tersebut yang pada awalnya untuk mencapai kemanunggalan ABRI dengan rakyat, ternyata berimbas positif dalam percepatan pelaksanaan program pembangunan yang dicanangkan oleh Pemerintah.

Strategi ABRI Masuk Desa sangat membantu percepatan pembangunan, terutama pembangunan di desa-desa terpencil yang mengalami kesulitan karena kondisi geografis, sehingga sulit dijangkau pembangunan. Melalui program ini permasalahan tersebut dapat diatasi bahkan sangat menghemat pengeluaran anggaran pemerintah.

 

Reformasi ABRI

Seiring dengan adanya Reformasi ABRI, dengan dipisahkannya Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan TNI melalui upacara pemisahan pada tanggal 1 April 1999, ABRI Masuk Desa berubah nama menjadi TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD).

Perubahan sebutan dari ABRI Masuk Desa menjadi TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD), ternyata tidak merubah tujuan awal dari dicetuskannya pelaksanaan AMD untuk pertama kalinya, selain lebih mempererat kemanunggalan TNI dengan Rakyat, juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan dan memantapkan kesadaran bermasyarakat, berbangsa, bernegara, bela negara dan disiplin nasional.

Program TMMD tersebut ternyata berhasil mencapai sasaran yang diprogramkan, baik sasaran fisik maupun sasaran lainnya, keberhasilan tersebut bahkan mengilhami lahirnya program-program manunggal lainnya seperti TNI Manunggal Pertanian, TNI Manunggal Aksara, TNI Manunggal KB-Kes, TNI Manunggal Sosial Sejahtera, TNI Manunggal Sembako dan TNI Manunggal Reboisasi yang pernah dilaksanakan oleh TNI.